Krisis Air Bersih di Wilayah Rempang: Warga Berharap Pembangunan Waduk Baru Segera Rampung

Ulasan mendalam mengenai krisis pasokan air bersih di Rempang Batam dan urgensi penyelesaian pembangunan waduk sebagai solusi jangka panjang bagi warga.

Krisis Air Bersih di Wilayah Rempang: Warga Berharap Pembangunan Waduk Baru Segera Rampung
Air adalah nyawa, tapi warga Rempang masih harus berjuang mendapatkannya. Semoga proyek waduk baru segera kelar biar nggak ada lagi cerita beli air jeriken tiap hari.




(Batam24.com) | BATAM – Masalah ketersediaan air bersih masih menjadi persoalan krusial bagi ribuan warga yang bermukim di kawasan Rempang, Batam, hingga Rabu, 15 April 2026. Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut, pasokan air dari sumur bor warga mulai tidak mencukupi, terutama saat memasuki musim kemarau pendek seperti saat ini. Warga setempat mengeluhkan debit air yang semakin mengecil dan kualitas air yang terkadang mulai terasa payau, sehingga mereka terpaksa harus membeli air bersih dalam kemasan jeriken untuk kebutuhan memasak dan minum sehari-hari.

Harapan warga kini tertuju pada proyek pembangunan waduk baru dan jaringan pipa transmisi yang tengah dikerjakan oleh pemerintah pusat dan daerah di kawasan tersebut. Percepatan pembangunan infrastruktur air ini dinilai sangat mendesak guna mendukung rencana pengembangan kawasan industri dan pemukiman baru di Rempang. Pihak otoritas terkait menyatakan bahwa kendala topografi dan pembebasan lahan menjadi faktor utama lambatnya proses pengerjaan, namun mereka berkomitmen untuk menyelesaikan tahap awal distribusi air pada akhir tahun ini agar masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan hak dasar mereka.

Selain pembangunan waduk, sejumlah aktivis lingkungan di Batam juga menyarankan adanya program konservasi hutan bakau dan daerah tangkapan air di Rempang guna menjaga ketersediaan air tanah secara alami. Tanpa adanya keseimbangan antara pembangunan fisik dan perlindungan alam, krisis air dikhawatirkan akan terus berulang di masa depan. Warga berharap adanya solusi jangka pendek seperti pengiriman bantuan air bersih secara rutin menggunakan mobil tangki ke titik-titik pemukiman yang paling terdampak krisis selama proses pembangunan infrastruktur permanen masih berjalan.

(Dykha)