Ambisi "Greenland" Kembali Memanas: Trump Tak Menepis Opsi Militer, NATO Terancam Bubar?
"Ketegangan diplomatik memuncak setelah Presiden AS Donald Trump menghidupkan kembali ambisi akuisisi Greenland. Dengan ancaman opsi militer dan penolakan keras dari Denmark, masa depan aliansi NATO kini berada di ujung tanduk. Simak analisis lengkap mengenai perebutan wilayah strategis Arktik ini."
Batam24.com | WASHINGTON D.C. – Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Denmark mencapai titik terendah dalam beberapa dekade terakhir. Presiden AS Donald Trump secara resmi menghidupkan kembali obsesinya untuk mengakuisisi Greenland, pulau terbesar di dunia, dengan menyebutnya sebagai "prioritas keamanan nasional yang absolut."
Konteks: Bukan Sekadar Transaksi Properti
Dalam pernyataan terbaru dari Gedung Putih pada Selasa (6/1/2026), Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengonfirmasi bahwa tim keamanan nasional AS sedang "secara aktif membahas" berbagai opsi untuk memperoleh Greenland.
Meskipun diplomasi disebut sebagai prioritas, Leavitt menegaskan bahwa opsi militer selalu terbuka bagi sang Panglima Tertinggi. Ketegangan ini meningkat drastis setelah keberhasilan operasi militer AS di Venezuela yang menangkap Nicolas Maduro awal pekan lalu, yang menurut para analis, membuat Trump merasa lebih percaya diri dalam melakukan tindakan unilateral.
Mengapa AS Begitu Menginginkan Greenland?
Ada tiga alasan utama di balik langkah agresif Washington:
-
Keamanan Arktik: Trump mengklaim kapal-kapal Rusia dan China "ada di mana-mana" di sekitar pantai Greenland. Ia menilai Denmark tidak lagi mampu menjamin keamanan wilayah tersebut dari infiltrasi lawan-lawan AS.
-
Sumber Daya Alam: Mencairnya lapisan es akibat pemanasan global telah membuka akses ke cadangan minyak, gas, dan mineral langka (seperti uranium dan besi) yang sangat masif.
-
Posisi Strategis: Greenland merupakan lokasi ideal untuk sistem peringatan dini rudal nuklir dan pengawasan jalur pelayaran baru di Kutub Utara.
Reaksi Keras Denmark dan Ancaman Runtuhnya NATO
Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, memberikan respons yang sangat tajam. Ia menyebut klaim Trump sebagai pandangan dunia yang "kuno" dan "tidak masuk akal."
"Jika Amerika Serikat menyerang sekutu NATO-nya sendiri, maka semuanya berakhir—termasuk NATO dan tatanan keamanan pasca-Perang Dunia II," tegas Frederiksen dalam wawancara dengan penyiar publik DR.
Senada dengan Denmark, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen juga mengeluarkan peringatan keras. "Cukup sudah. Tidak ada lagi tekanan, tidak ada lagi sindiran. Greenland milik rakyatnya sendiri dan kami bukan untuk dijual," ujarnya.
Langkah Diplomatik Berikutnya
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dijadwalkan akan bertemu dengan perwakilan Denmark minggu depan untuk meredakan ketegangan. Namun, penunjukan Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai "Utusan Khusus untuk Greenland" oleh Trump bulan lalu dianggap sebagai penghinaan diplomatik oleh Kopenhagen, karena dilakukan tanpa konsultasi terlebih dahulu.
Saat ini, mata dunia tertuju pada bagaimana negara-negara anggota NATO lainnya, seperti Jerman dan Prancis, akan bereaksi terhadap ancaman perpecahan internal yang paling serius sepanjang sejarah aliansi tersebut.
(Dykha)





