Timur Tengah Membara: Ketegangan Iran Capai Titik Kritis, Ancaman Konflik Regional Meningkat
Artikel ini merangkum eskalasi ketegangan di Iran per 15 Januari 2026, mencakup krisis ekonomi domestik akibat anjloknya mata uang Rial, jumlah korban jiwa dalam unjuk rasa, ancaman militer antara Iran dan Amerika Serikat, serta dampak global terhadap harga minyak dan upaya evakuasi warga asing.
Batam24.com | TEHERAN – Situasi di Iran memasuki fase paling mengkhawatirkan pada Kamis (15/1/2026). Gelombang aksi protes nasional yang dipicu oleh krisis ekonomi hebat dan anjloknya nilai mata uang Rial hingga menyentuh titik terendah (1 Rial kini hanya setara Rp 0,01) telah berubah menjadi kerusuhan berdarah. Laporan terbaru menyebutkan jumlah korban jiwa akibat bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan kini mendekati angka 2.600 orang.
Ketegangan domestik ini dengan cepat bergeser menjadi ancaman perang terbuka setelah Teheran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan tersebut. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengeluarkan peringatan keras bahwa Iran siap "membakar kawasan" jika kedaulatan mereka diserang oleh kekuatan asing.
Merespons ancaman ini, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah mengeluarkan perintah evakuasi mendesak bagi warga negaranya di Iran. Beberapa negara Eropa seperti Italia dan Polandia juga menyarankan warganya untuk segera meninggalkan wilayah tersebut. Di sisi lain, militer AS dilaporkan tengah mempertimbangkan berbagai opsi serangan strategis terhadap pangkalan-pangkalan militer Iran sebagai bentuk respons atas tindakan keras pemerintah Teheran terhadap warga sipil.
Kondisi ini memicu kepanikan di pasar energi global, menyebabkan harga minyak dunia bertahan di level tinggi karena kekhawatiran akan gangguan pasokan di Selat Hormuz. Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus memantau keselamatan ratusan WNI di Iran dan menyiapkan skema evakuasi darurat jika situasi terus memburuk.
(Dykha)





