Mengikis Stigma Negatif Mengenai Isu Kesehatan Mental di Kalangan Generasi Muda Indonesia Melalui Edukasi dan Layanan Publik
Fenomena perubahan pola pikir masyarakat terhadap kesehatan mental dan ketersediaan layanan psikologis di fasilitas kesehatan pemerintah Indonesia.
Batam24.com | JAKARTA – Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental menunjukkan tren peningkatan yang sangat signifikan di kalangan Gen Z dan Milenial di berbagai kota besar di Indonesia dalam dua tahun terakhir. Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap tekanan hidup modern, kompetisi karier yang semakin ketat, serta pengaruh media sosial yang seringkali menciptakan standar hidup tidak realistis. Berbagai kampanye masif yang diinisiasi oleh komunitas lokal dan publik figur di media sosial mulai membuahkan hasil, di mana masyarakat kini didorong untuk tidak lagi menganggap masalah gangguan psikologis, seperti depresi dan gangguan kecemasan, sebagai hal yang tabu, memalukan, atau tanda kelemahan karakter. Sebaliknya, hal tersebut kini dipandang sebagai kondisi kesehatan medis yang memerlukan penanganan profesional layaknya penyakit fisik lainnya.
Saat ini, transformasi layanan kesehatan mulai terlihat nyata di mana banyak Puskesmas dan rumah sakit umum milik pemerintah mulai melengkapi fasilitas pelayanan mereka dengan psikolog klinis profesional yang biayanya sangat terjangkau, bahkan terintegrasi dengan sistem BPJS Kesehatan. Para ahli kesehatan jiwa menyarankan agar masyarakat mulai menerapkan prinsip work-life balance atau keseimbangan antara beban pekerjaan dan kehidupan pribadi sebagai prioritas utama guna mencegah terjadinya kelelahan mental kronis yang sering disebut sebagai burnout. Selain itu, pentingnya literasi digital juga ditekankan agar generasi muda mampu membatasi konsumsi konten yang dapat memicu rasa rendah diri atau kecemasan berlebih. Dukungan dari lingkungan keluarga yang terbuka, komunikatif, serta kebijakan tempat kerja yang inklusif sangat dibutuhkan untuk membantu mereka yang tengah berjuang dengan kondisi mental tertentu agar tetap bisa produktif, merasa dihargai, dan memiliki kualitas hidup yang baik tanpa harus merasa terisolasi secara sosial di tengah lingkungan mereka sendiri.
(Dykha)





