Bukan Buat Nyontek, Mahasiswa Ini Gunakan AI untuk Bangun Agensi Digital dari Kamar Kos
Artikel ini membahas tren baru di kalangan mahasiswa yang memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai peluang bisnis sampingan. Fokus pada kisah nyata seorang mahasiswa yang membangun agensi digital kreatif dari kamar kos untuk membantu digitalisasi UMKM lokal, membuktikan bahwa AI bisa menjadi alat produktif untuk berwirausaha di masa kuliah.
Batam24.com | BATAM – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di kalangan mahasiswa kini tidak lagi sebatas alat bantu pengerjaan tugas akademik. Di Batam, sejumlah mahasiswa mulai mentransformasikan teknologi ini menjadi peluang bisnis yang menjanjikan dengan mendirikan agensi kreatif berskala kecil dari kamar kos mereka.
Farel (21), seorang mahasiswa tingkat akhir, adalah salah satu yang berhasil menangkap peluang tersebut. Dengan memanfaatkan alat AI seperti generator gambar dan pengolah teks (LLM), ia menawarkan jasa manajemen media sosial dan pembuatan konten visual bagi UMKM lokal yang belum melek digital.
"Awalnya saya hanya iseng membantu usaha warung makan tetangga. Ternyata dengan bantuan AI, saya bisa memproduksi desain dan strategi konten dalam waktu singkat namun dengan kualitas profesional," ujar Farel saat ditemui pada Kamis (15/1/2026).
Bisnis yang ia beri nama "Digital-Rise" ini kini telah menangani lebih dari 10 klien tetap. Farel mengaku tidak membutuhkan modal besar untuk memulai. "Modal utamanya hanya laptop, koneksi internet, dan langganan tools AI. Yang paling penting adalah cara kita memberi instruksi atau prompting ke AI tersebut agar hasilnya sesuai keinginan klien," tambahnya.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran paradigma di mana teknologi AI justru menjadi katalisator bagi mahasiswa untuk menjadi solopreneur tanpa harus mengganggu jadwal kuliah. Pakar ekonomi digital menilai bahwa bisnis berbasis layanan AI sangat cocok bagi mahasiswa karena efisiensi waktu yang ditawarkan.
Meski begitu, Farel menekankan bahwa kreativitas manusia tetap menjadi kunci utama. AI hanya berfungsi sebagai asisten untuk mempercepat proses kerja, sementara ide besar dan sentuhan personal tetap datang dari pemikiran manusia.
(Dykha)





