Rupiah Tertekan di Level Rp16.800, Sinyal "Hawkish" The Fed Jadi Pemicu Utama

"Rupiah melemah ke level Rp16.871 per dolar AS hari ini akibat kebijakan suku bunga The Fed. Simak dampak kenaikan harga barang impor dan respons Bank Indonesia di sini!"

Rupiah Tertekan di Level Rp16.800, Sinyal "Hawkish" The Fed Jadi Pemicu Utama
Pelemahan ini dipicu oleh sentimen global dan kebijakan suku bunga The Fed yang diprediksi tetap tinggi. Apa dampaknya bagi harga barang pokok dan daya beli kita? Simak ulasan lengkapnya di artikel terbaru kami. Link di bio!"




IKLAN RUTAN

iklan rutan

iklan rutan

Batam24.com | JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren melemah pada perdagangan Selasa (13/1/2026). Mata uang Garuda kini bergerak di kisaran Rp16.850 hingga Rp16.880 per dolar AS, memperpanjang catatan negatif dalam sepekan terakhir.

Berdasarkan data pasar spot dan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Rupiah dibuka melemah sekitar 0,11% pagi ini. Tekanan ini disebut-sebut sebagai imbas dari kondisi ekonomi global yang belum stabil serta kebijakan moneter di Amerika Serikat.

Penyebab Utama: Sinyal Bunga Tinggi di AS

Analis pasar uang menyebutkan bahwa penguatan dolar AS dipicu oleh pernyataan hawkish dari pejabat bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

  • Penundaan Pemangkasan Suku Bunga: Pejabat The Fed mengisyaratkan bahwa inflasi di AS masih perlu dipantau lebih ketat, sehingga rencana pemangkasan suku bunga kemungkinan besar akan ditunda. hal ini membuat investor lebih memilih memegang aset dalam dolar.

  • Proyeksi Inflasi Global: Kekhawatiran akan naiknya inflasi inti di AS juga membuat dolar menjadi aset safe haven (pelarian aman) bagi para investor global.

Dampak Nyata bagi Masyarakat & Industri

Pelemahan Rupiah yang berkelanjutan mulai memberikan efek domino pada perekonomian dalam negeri:

  1. Harga Barang Impor Naik: Sektor otomotif, elektronik, hingga farmasi yang sangat bergantung pada bahan baku impor diprediksi akan menaikkan harga jual produk dalam waktu dekat.

  2. Beban Pangan: Komoditas pangan yang masih diimpor, seperti gandum dan kedelai, turut terancam naik harganya, yang pada akhirnya bisa mengerek harga mi instan hingga tahu dan tempe.

  3. Tekanan Utang Luar Negeri: Perusahaan-perusahaan dengan pinjaman dalam mata uang dolar AS kini harus bersiap menghadapi pembengkakan biaya cicilan dan bunga.

Respons Bank Indonesia

Menanggapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) dilaporkan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak menembus angka psikologis Rp17.000 per dolar AS. Para ahli memprediksi bahwa BI mungkin akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) tetap tinggi demi menjaga daya tarik investasi di pasar domestik.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok dalam beberapa bulan ke depan jika tren pelemahan ini terus berlanjut.

(Dykha)