Isu Link Video Viral Dea Store Meulaboh, Kominfo Ingatkan Bahaya Phishing
Waspada modus phishing di balik isu video viral Dea Store Meulaboh yang meresahkan netizen pada 5 Maret 2026.
(Batam24.com) | Meulaboh – Nama "Dea Store" di Meulaboh mendadak menjadi pencarian teratas di mesin pencari dan media sosial pada Kamis (5/3/2026). Hal ini berawal dari tersebarnya narasi mengenai adanya video viral yang diduga melibatkan oknum terkait toko tersebut. Namun, pihak berwenang segera mencium adanya modus penipuan di balik penyebaran link-link yang mengklaim berisi video tersebut.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memberikan peringatan keras kepada masyarakat untuk tidak mengklik tautan (link) sembarangan yang beredar di grup WhatsApp atau kolom komentar media sosial. Link-link tersebut sering kali merupakan jebakan phishing yang dirancang untuk mencuri data pribadi, akun media sosial, hingga akses perbankan milik pengguna yang penasaran.
Banyak warga net yang melaporkan bahwa setelah mengklik tautan tersebut, ponsel mereka mengalami kendala atau muncul permintaan login akun yang mencurigakan. Modus "video viral" memang sering digunakan oleh pelaku kejahatan siber untuk memancing korban di tengah rasa keingintahuan publik yang tinggi. Kominfo meminta warga untuk lebih cerdas dalam memilah informasi yang belum jelas kebenarannya.
Pihak manajemen Dea Store sendiri telah memberikan klarifikasi bahwa isu yang beredar adalah fitnah dan upaya pencemaran nama baik. Mereka berencana melaporkan penyebar pertama hoaks tersebut ke pihak kepolisian karena telah merugikan operasional bisnis mereka. Mereka menegaskan bahwa tidak ada video seperti yang dinarasikan oleh akun-akun anonim di internet.
Pakar keamanan siber menyarankan agar pengguna internet selalu mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA) pada akun-akun penting mereka. Jika sudah terlanjur mengklik link mencurigakan, segera ganti kata sandi dan lakukan pemindaian virus pada perangkat. Jangan pernah memberikan kode OTP atau data identitas kepada situs-situs yang tidak dikenal.
Kepolisian daerah Aceh Barat juga memantau situasi ini guna mencegah terjadinya gangguan ketertiban umum akibat hoaks yang terus menyebar. Masyarakat diminta untuk melaporkan akun-akun yang menyebarkan konten negatif atau link berbahaya melalui fitur pelaporan di platform media sosial masing-masing.
Literasi digital masyarakat kembali diuji dengan fenomena ini, di mana berita negatif cenderung lebih cepat menyebar daripada fakta yang sebenarnya. Edukasi mengenai bahaya siber harus terus ditingkatkan agar masyarakat tidak menjadi korban teknologi yang mereka gunakan sehari-hari.
(Dykha)





