170 Ribu GPU NVIDIA Bakal Masuk Batam, Data Center AI 360 MW Disiapkan

Firmus Technologies bersama NVIDIA dan DayOne menyiapkan AI Factory 360 MW di Batam dengan hingga 170 ribu akselerator AI. Di tengah ledakan investasi data center, ketahanan air Batam menjadi tantangan penting.

170 Ribu GPU NVIDIA Bakal Masuk Batam, Data Center AI 360 MW Disiapkan
Gambar: ilustrasi ai - Pusat data center AI Nongsa Batam




BATAM, BATAM24.COM – Batam bersiap memasuki babak baru sebagai salah satu pusat infrastruktur kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berskala besar di kawasan Asia Pasifik. Firmus Technologies mengumumkan kemitraan strategis dengan NVIDIA yang akan ditopang pembangunan NVIDIA DSX AI Factory berkapasitas 360 megawatt (MW) di Batam.

Proyek tersebut bukan sekadar pusat data biasa. Firmus menyebut kemitraannya dengan NVIDIA berjalan hingga 2034 dan mencakup akses hingga 170.000 akselerator AI NVIDIA, dengan penyebaran perangkat yang direncanakan pada 2027 dan 2028. Kampus AI Factory di Batam akan dikembangkan bersama perusahaan data center DayOne.

Rencana investasi itu juga telah mendapat perhatian pemerintah. BP Batam menyatakan menyambut ekspansi Firmus Technologies dan menilai proyek tersebut dapat memperkuat posisi Batam sebagai pusat infrastruktur AI regional. PLN Batam juga menyambut rencana ekspansi Firmus yang disebut sebagai perusahaan infrastruktur AI asal Australia yang didukung NVIDIA.

Batam Dipilih untuk Infrastruktur AI Berskala Besar

Firmus menyatakan NVIDIA DSX AI Factory Batam akan menjadi pusat dari kemitraan komputasi strategis kedua perusahaan.

Skalanya terbilang luar biasa. Kapasitas yang direncanakan mencapai 360 MW, sementara perangkat komputasinya mencakup hingga 170.000 akselerator AI dari beberapa generasi platform NVIDIA, termasuk Grace Blackwell, Vera Rubin dan Vera.

BP Batam menyebut proyek tersebut sebagai pusat data AI pertama Firmus di Indonesia melalui kemitraan strategis bersama NVIDIA dan DayOne.

Target operasional awal juga terbilang dekat. Pemerintah Kota Batam menyebut pengembangan fasilitas terkait proyek Firmus-NVIDIA ditargetkan mulai beroperasi pada triwulan pertama 2027.

Kehadiran proyek ini membuat Batam berpeluang memainkan peran jauh lebih besar dalam industri AI global, bukan lagi hanya sebagai kawasan manufaktur dan galangan kapal.

Bukan Hanya NVIDIA-Firmus, Data Center Batam Terus Membesar

Perkembangan NVIDIA-Firmus terjadi ketika industri data center Batam memang sedang tumbuh agresif.

Di Nongsa Digital Park, misalnya, PT DayOne Data Centers Indonesia telah mengembangkan fasilitas data center.

DayOne dalam informasi resminya menyebut kampus data center di Nongsa Digital Park memiliki kapasitas 72 MW. Lokasi Batam tersebut juga memiliki akses terhadap lebih dari 15 kabel bawah laut yang telah beroperasi maupun direncanakan serta konektivitas langsung menuju Singapura.

Princeton Digital Group (PDG) juga mengembangkan kampus BT1 berkapasitas 96 MW di Batam. Fasilitas tersebut dirancang terdiri atas empat bangunan dengan kapasitas hingga 24 MW per bangunan.

Posisi Batam yang berada sangat dekat dengan Singapura membuat pulau ini strategis sebagai perluasan ekosistem pusat data regional.

Ada Tantangan Besar: Air

Namun di balik besarnya investasi digital tersebut, Batam memiliki pekerjaan rumah yang tidak kecil.

Ketahanan air menjadi salah satu isu yang harus diperhitungkan ketika kapasitas data center terus bertambah.

Pusat data membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga ribuan hingga ratusan ribu perangkat komputasi tetap beroperasi pada temperatur yang aman. Besarnya konsumsi air sangat bergantung pada teknologi pendinginan dan desain fasilitas yang digunakan.

Kajian khusus Katadata mengenai perkembangan data center Batam memperkirakan bahwa apabila 10 data center di Batam beroperasi penuh pada 2032, kebutuhan airnya dapat mencapai sekitar 32 juta liter per hari.

Jumlah tersebut diperkirakan setara sekitar 8,4 persen dari pasokan air Batam saat ini dan secara volume dapat memenuhi kebutuhan sekitar 320.000 orang.

Angka tersebut merupakan proyeksi, bukan konsumsi aktual saat ini. Kebutuhan nyata nantinya akan sangat bergantung pada kapasitas yang benar-benar beroperasi, teknologi pendinginan, efisiensi fasilitas dan sumber air yang digunakan.

Investasi Jangan Sampai Berkompetisi dengan Kebutuhan Warga

Pertumbuhan data center tentu menjadi peluang besar bagi Batam.

Selain investasi, sektor ini dapat meningkatkan permintaan tenaga kerja teknologi, pembangunan jaringan telekomunikasi, kelistrikan, konstruksi, keamanan siber serta berbagai industri pendukung.

Tetapi pembangunan infrastruktur digital harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur dasar.

Ketika kapasitas data center mencapai ratusan megawatt, pembahasan tidak lagi cukup hanya mengenai berapa besar investasi yang masuk.

Pertanyaan berikutnya adalah: dari mana listriknya, bagaimana sistem pendinginannya, berapa kebutuhan airnya, dan bagaimana memastikan kebutuhan industri tidak mengganggu pasokan air masyarakat?

Pertanyaan tersebut semakin relevan apabila ekspansi data center Batam terus berlangsung dalam satu dekade mendatang.

NVIDIA di Batam, Tapi Perlu Diluruskan

Ada hal penting yang perlu dipahami masyarakat.

Proyek ini tidak tepat jika disederhanakan menjadi “NVIDIA membangun gedung miliknya sendiri di Nongsa.”

Informasi resmi Firmus menyebut proyek tersebut sebagai NVIDIA DSX AI Factory campus 360 MW di Batam yang menjadi bagian dari kemitraan komputasi Firmus dengan NVIDIA dan dikembangkan bersama DayOne.

Sementara itu, DayOne memang telah memiliki pengembangan data center tersendiri berkapasitas 72 MW di Nongsa Digital Park.

Karena itu, lokasi dan struktur proyek perlu dibedakan agar informasi mengenai kampus AI Factory 360 MW Firmus-NVIDIA-DayOne tidak tercampur dengan fasilitas DayOne 72 MW yang sudah disebut secara spesifik berada di Nongsa Digital Park.

Batam Bisa Menjadi Pusat AI Asia Pasifik

Masuknya investasi AI berskala besar merupakan kesempatan langka bagi Batam.

Jika proyek Firmus, NVIDIA dan DayOne terealisasi sesuai rencana, Batam tidak hanya menjadi lokasi penyimpanan data, tetapi berpotensi menjadi lokasi infrastruktur komputasi untuk melatih dan menjalankan berbagai aplikasi AI.

Firmus bahkan menyebut kampus 360 MW tersebut sebagai salah satu pengembangan infrastruktur AI terbesar di kawasan Asia Pasifik.

Kini tantangan pemerintah adalah memastikan pertumbuhan tersebut memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada Batam.

Investasi data center harus diikuti kesiapan listrik, air baku, jaringan telekomunikasi, tenaga kerja lokal, keamanan infrastruktur dan tata kelola lingkungan.

Batam mempunyai lokasi yang strategis. Singapura berada di seberang laut, konektivitas internasional terus berkembang, dan investor teknologi global mulai melihat pulau ini sebagai lokasi penting.

Namun masa depan Batam sebagai “pulau data center” pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak GPU yang dapat dipasang.

Kemampuan Batam menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri digital, lingkungan dan kebutuhan dasar masyarakat akan menentukan apakah ledakan investasi AI tersebut benar-benar menjadi keuntungan jangka panjang bagi kota ini.

(Redaksi)