Indonesia Dikepung Titik Panas Karhutla, Ribuan Hotspot Terdeteksi di Sumatera dan Kalimantan
Batam24.com | JAKARTA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia semakin serius. Ribuan titik panas atau hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah, dengan konsentrasi tinggi terlihat di Pulau Sumatera dan Kalimantan.
Berdasarkan pembaruan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebanyak 2.610 titik panas terdeteksi di Pulau Sumatera pada Minggu (23/8/2026) pukul 07.00 WIB. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya ketika BMKG mendeteksi 1.104 titik panas di Sumatera.
Kondisi serupa terjadi di Kalimantan. BMKG mencatat 696 titik panas di Kalimantan Selatan pada Minggu (23/8/2026). Dari jumlah tersebut, 622 berada pada kategori sedang dan 29 titik masuk kategori tinggi.
Sebaran terbanyak di Kalimantan Selatan ditemukan di Kabupaten Banjar sebanyak 127 titik, Hulu Sungai Selatan 115 titik, Tapin 104 titik, Hulu Sungai Utara 65 titik, Tanah Laut 58 titik, Hulu Sungai Tengah 48 titik, dan Kotabaru 46 titik.
Peta sebaran hotspot juga memperlihatkan titik-titik panas tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia. Namun perlu dicatat, hotspot bukan berarti seluruh titik tersebut telah dipastikan sebagai kebakaran. Titik panas merupakan anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengetahui kemungkinan terjadinya kebakaran hutan atau lahan.
Enam Provinsi Jadi Prioritas Karhutla
Pemerintah telah menetapkan enam provinsi sebagai wilayah prioritas penanganan karhutla, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi.
BNPB memperkirakan risiko karhutla berada pada periode kritis sepanjang Agustus hingga September 2026. Pemerintah juga mengerahkan operasi darat dan udara, termasuk helikopter serta pesawat untuk patroli dan water bombing.
Di Sumatera Selatan saja, sebanyak 600 hotspot terdeteksi pada 22 Agustus 2026. BPBD Sumatera Selatan mencatat hingga 21 Agustus terdapat 1.605 kejadian karhutla dengan indikasi luas terdampak sekitar 1.926 hektare.
El Niño Sangat Kuat, Indonesia Makin Kering
BMKG menyebut kondisi El Niño sangat kuat masih memengaruhi cuaca Indonesia. Musim kemarau juga mendominasi sebagian besar wilayah sehingga vegetasi, semak belukar dan lahan gambut menjadi semakin mudah terbakar.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Ancaman karhutla kini tidak hanya berkaitan dengan kerusakan hutan. Asap dari kebakaran juga berpotensi menurunkan kualitas udara dan menyebar lintas wilayah. Pemantauan pemerintah pada 1–20 Agustus bahkan menunjukkan sebaran asap telah melintasi batas Indonesia–Malaysia sejak 6 Agustus 2026.
Dengan kemarau yang masih berlangsung, perkembangan hotspot di Sumatera dan Kalimantan diperkirakan menjadi salah satu kondisi yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam beberapa pekan ke depan.
(Redaksi)