Frugal Living vs. Self-Reward: Mencari Titik Tengah Antara Hemat dan Bahagia
Artikel ini membahas cara menyeimbangkan gaya hidup hemat (frugal living) dengan penghargaan diri (self-reward) agar tetap stabil secara finansial tanpa mengorbankan kebahagiaan mental.
Batam24.com | JAKARTA – Belakangan ini, jagat media sosial diramaikan dengan perdebatan antara penganut gaya hidup frugal living dan mereka yang menjunjung tinggi prinsip self-reward. Di satu sisi, menabung secara ketat dianggap sebagai kunci kebebasan finansial, namun di sisi lain, memanjakan diri dianggap penting untuk menjaga kesehatan mental. Lantas, apakah keduanya bisa berjalan beriringan?
Frugal living bukan berarti hidup pelit. Prinsip ini lebih menekankan pada kesadaran penuh dalam pengeluaran (mindful spending) untuk dialokasikan ke hal-hal yang lebih bermakna di masa depan. Namun, tren ini sering kali disalahartikan sebagai gaya hidup "menyiksa diri" yang mengharamkan kesenangan kecil.
Sebaliknya, istilah self-reward sering dijadikan tameng untuk perilaku konsumtif. Membeli kopi mahal setiap hari atau belanja barang bermerek dengan alasan "menghargai diri sendiri" bisa menjadi bumerang jika tidak dibarengi dengan perencanaan anggaran yang matang.
Strategi "Jalan Tengah"
Para ahli finansial menyarankan agar kita tidak terjebak pada salah satu ekstrem. Berikut adalah cara menyeimbangkan keduanya:
-
Alokasi Dana Khusus: Masukkan self-reward ke dalam pos anggaran bulanan (misalnya 5-10% dari gaji). Dengan begitu, kamu bisa bersenang-senang tanpa merasa bersalah.
-
Definisikan Ulang Reward: Self-reward tidak harus selalu berupa barang mahal. Tidur lebih awal, jalan-jalan di taman, atau membaca buku favorit juga merupakan bentuk penghargaan diri yang gratis.
-
Evaluasi Prioritas: Gunakan prinsip frugal living untuk memangkas biaya yang tidak perlu (seperti langganan aplikasi yang jarang dipakai) agar uangnya bisa digunakan untuk reward yang lebih berkualitas, seperti liburan tahunan.
Kesimpulannya, frugal living dan self-reward bukanlah musuh. Keduanya adalah alat untuk mencapai hidup yang berkualitas. Kuncinya bukan pada seberapa banyak uang yang disimpan atau dihabiskan, melainkan pada kontrol diri yang bijak.
(Dykha)





