"Slow Living" di Kota Besar: Gerakan Hidup Santai Tanpa Tekanan Jadi Tren Kesehatan Mental

Ulasan mengenai pergeseran budaya dari hustle culture ke slow living di kota besar Indonesia sebagai tren kesehatan mental pada tahun 2026.

"Slow Living" di Kota Besar: Gerakan Hidup Santai Tanpa Tekanan Jadi Tren Kesehatan Mental
Lagi capek sama kerjaan yang nggak ada habisnya? Cobain tren Slow Living! Hidup lebih santai dan mindful ternyata kunci buat mental yang lebih sehat di zaman sekarang.




IKLAN BC

iklan rutan

iklan rutan

(Batam24.com) | TANGERANG – Di tengah hiruk-pikuk kesibukan perkotaan, gerakan "Slow Living" atau hidup melambat mulai menjadi tren kesehatan mental yang paling banyak dibicarakan pada Selasa, 14 April 2026. Banyak pekerja muda di kawasan penyangga Jakarta mulai meninggalkan budaya "hustle culture" yang penuh tekanan dan beralih ke pola hidup yang lebih sadar (mindful), seperti bercocok tanam di rumah, memasak makanan sendiri, hingga mengurangi waktu penggunaan gadget. Tren ini dianggap sebagai respons alami manusia terhadap kejenuhan dunia digital yang terlalu cepat dan menuntut produktivitas tanpa henti.

Viralnya tagar #SlowLiving di media sosial menunjukkan bahwa kebahagiaan kini tidak lagi diukur hanya dari pencapaian materi, melainkan dari kualitas waktu istirahat dan ketenangan batin. Sejumlah perusahaan bahkan mulai mengadaptasi nilai-nilai ini dengan membatasi komunikasi pekerjaan di luar jam kantor guna menjaga kesehatan mental karyawannya. Para psikolog menilai tren ini sangat positif untuk menurunkan tingkat kecemasan dan depresi di kalangan penduduk urban, sekaligus mengembalikan makna interaksi sosial yang lebih mendalam secara tatap muka.

(Dykha)