Ledakan Kasus Keracunan Takjil di Surabaya: Puluhan Warga Dilarikan ke RSUD
Laporan mengenai kasus keracunan massal akibat takjil di Surabaya pada 31 Maret 2026 yang menyebabkan puluhan warga dirawat, serta langkah investigasi dari dinas terkait.
Batam24.com | SURABAYA – Kesehatan Masyarakat Kasus keracunan makanan massal menggemparkan warga Surabaya pada Selasa, 31 Maret 2026, setelah puluhan orang melaporkan gejala mual dan pusing usai menyantap takjil. Takjil tersebut dibagikan oleh sebuah komunitas di kawasan Wonokromo saat menjelang waktu berbuka puasa pada sore sebelumnya. Hingga pagi ini, tercatat 45 orang masih menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo karena kondisi dehidrasi yang cukup parah.
Dinas Kesehatan Kota Surabaya bergerak cepat dengan mengambil sampel sisa makanan berupa es campur dan beberapa jenis gorengan untuk diuji di laboratorium. Dugaan sementara mengarah pada penggunaan bahan tambahan pangan berbahaya atau sumber air yang tidak higienis dalam proses pembuatan takjil tersebut. Petugas kepolisian juga telah memintai keterangan dari pihak penyelenggara pembagian takjil guna menelusuri sumber bahan baku.
Suasana di instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit sempat membeludak karena pasien datang secara bersamaan sejak Senin malam hingga dini hari tadi. Tim medis dikerahkan secara maksimal untuk memberikan pertolongan pertama berupa pemberian cairan infus dan obat anti-racun kepada para korban. Beruntung, sebagian besar pasien kondisinya mulai stabil meskipun beberapa anak kecil masih harus diawasi ketat.
Wali Kota Surabaya mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam menerima atau membeli makanan berbuka puasa di pinggir jalan selama sisa masa syawal. Ia juga meminta para pelaku usaha kuliner musiman untuk tetap menjaga kebersihan dan kualitas bahan makanan demi keselamatan konsumen. "Niat baik untuk berbagi harus dibarengi dengan prosedur kebersihan yang benar dan sehat," tegasnya.
Berita ini viral di grup-grup WhatsApp warga Surabaya sebagai pengingat untuk selalu waspada terhadap jajanan murah di pinggir jalan. Banyak netizen yang menyayangkan kejadian ini terjadi di momen silaturahmi yang seharusnya penuh dengan kegembiraan bersama keluarga. Beberapa saksi mata menyebutkan bahwa aroma es campur tersebut memang terasa sedikit berbeda sebelum dikonsumsi.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa proses hukum akan tetap berjalan jika ditemukan unsur kelalaian atau kesengajaan dalam penyediaan makanan tersebut. Saat ini, lokasi pembagian takjil telah dipasangi garis polisi untuk keperluan penyelidikan lebih mendalam oleh tim Inafis. Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak menyebarkan spekulasi liar sebelum hasil laboratorium resmi diumumkan ke publik.
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh komunitas sosial yang ingin mengadakan aksi berbagi makanan massal di masa depan. Standar operasional prosedur (SOP) penyajian makanan massal kini menjadi bahasan hangat di kalangan dinas terkait guna mencegah kejadian serupa. Semua pihak berharap para korban segera pulih dan bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala.
(Dykha)






