54 Perusahaan Asing Tertarik Ikut Program Waste-to-Energy Danantara
Lebih dari 50 perusahaan asing dari Jepang, Jerman, China, Belanda, dan Singapura tertarik ikut proyek waste-to-energy Danantara senilai puluhan triliun rupiah.
Batam24.com | Jakarta — Minat investor global terhadap sektor energi bersih Indonesia semakin meningkat. Hal ini terlihat dari 54 perusahaan asing yang secara resmi menyatakan ketertarikan mengikuti proyek waste-to-energy (WtE) yang disiapkan oleh Danantara Indonesia. Mereka berasal dari Jepang, Jerman, Belanda, China, Korea Selatan, dan Singapura.
Proyek WtE ini menjadi salah satu program strategis nasional karena Indonesia berupaya melakukan modernisasi besar-besaran pada sistem pengelolaan sampah. Danantara sendiri sedang mempersiapkan pembangunan 33 fasilitas WtE yang akan tersebar di berbagai kota dengan volume sampah tinggi.
Menurut pejabat Danantara, para perusahaan tersebut tertarik karena Indonesia memiliki potensi pasar energi terbarukan yang sangat besar, apalagi dengan jumlah sampah nasional yang terus meningkat setiap tahun. Teknologi yang ditawarkan investor pun bervariasi, mulai dari incinerator termal, gasification, hingga advanced pyrolysis.
Untuk memastikan proses berjalan transparan, Danantara menyiapkan tender internasional terbuka. Mereka menegaskan bahwa perusahaan yang dipilih nanti harus memenuhi tiga kriteria utama:
-
Kemampuan finansial jangka panjang,
-
Teknologi ramah lingkungan dan efisiensi tinggi,
-
Rencana operasional berkelanjutan sesuai standar emisi Indonesia.
Bagi pemerintah, masuknya puluhan perusahaan asing sekaligus memberikan sinyal kuat bahwa sektor energi bersih Indonesia semakin menarik di mata global. Selain itu, proyek WtE juga akan menciptakan ribuan lapangan kerja baru di bidang teknis dan operasional.
Jika tender final dituntaskan dalam beberapa minggu ke depan, fase konstruksi fasilitas WtE pertama diharapkan dimulai pada kuartal awal 2026. Pemerintah menargetkan minimal 15 fasilitas sudah beroperasi dalam dua tahun pertama, sehingga mampu mengurangi beban TPA yang sudah kritis di banyak kota besar
(Dykha)





