BULAN SEWARNA DARAH Hiasi Langit Indonesia, 3 Maret 2026

BULAN SEWARNA DARAH Hiasi Langit Indonesia, 3 Maret 2026




IKLAN RUTAN

iklan rutan

iklan rutan

Batam24.com l Indonesia – Fenomena langit langka akan kembali menyapa penduduk bumi pada Selasa, 3 Maret 2026. Gerhana Bulan Total atau yang populer disebut Blood Moon diprediksi dapat diamati di seluruh wilayah Indonesia, termasuk pada fase puncaknya.

Secara astronomi, gerhana bulan total terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan. Posisi ini membuat bayangan inti Bumi (umbra) menutupi seluruh permukaan Bulan. Saat fase totalitas, Bulan tidak benar-benar menghilang, melainkan tampak berwarna merah tembaga. Warna tersebut muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi, yang menyaring cahaya biru dan menyisakan spektrum merah.

Jadwal Gerhana (WIB)

Berikut waktu pengamatan gerhana bulan total 3 Maret 2026:

Gerhana Penumbra Mulai: 15.44 WIB

Gerhana Sebagian Mulai: 16.50 WIB

Gerhana Total Mulai: 18.04 WIB

Puncak Gerhana: 18.34 WIB

Gerhana Total Berakhir: 19.02 WIB

Gerhana Sebagian Berakhir: 20.17 WIB

Seluruh wilayah Indonesia berkesempatan menyaksikan fase puncak gerhana. Momen ini menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan bulan Ramadan, sehingga langit senja saat berbuka puasa akan dihiasi panorama Bulan kemerahan.

Tidak seperti gerhana matahari, gerhana bulan aman disaksikan secara langsung tanpa alat pelindung mata.

Gerhana dalam Tradisi Dunia: Antara Ketakutan dan Cinta

Sepanjang sejarah, fenomena gerhana telah melahirkan beragam kisah dan kepercayaan di berbagai belahan dunia.

Tiongkok: Naga yang Lapar

Dalam kepercayaan Tiongkok kuno, gerhana dianggap sebagai pertanda seekor naga langit sedang menelan Bulan. Untuk mengusirnya, masyarakat memukul drum dan panci atau menyalakan petasan agar naga tersebut melepaskan kembali Sang Rembulan.

Jawa & Bali: Batara Kala dan Kala Rau

Dalam mitologi Jawa, raksasa Batara Kala dikisahkan menelan Bulan sebagai bentuk balas dendam. Sementara dalam tradisi Bali, Kala Rau mengejar Dewi Ratih, dewi bulan. Masyarakat tradisional biasanya membuat suara gaduh dengan memukul lesung sebagai simbol upaya menyelamatkan Bulan.

Suku Inka: Serangan Jaguar

Peradaban Inka meyakini warna merah pada Bulan saat gerhana adalah darah akibat serangan jaguar. Mereka khawatir hewan tersebut akan turun ke bumi, sehingga masyarakat membuat suara keras dan anjing peliharaan dibiarkan melolong untuk mengusir ancaman tersebut.

Suku Batammaliba (Afrika): Waktunya Berdamai

Berbeda dengan mitos bernuansa ketakutan, suku Batammaliba di Togo dan Benin percaya gerhana terjadi karena Matahari dan Bulan sedang berkonflik. Mereka memaknainya sebagai pesan agar manusia di bumi berdamai, menyelesaikan perselisihan, dan saling memaafkan.

Fenomena gerhana bulan total 3 Maret 2026 bukan hanya peristiwa astronomi, tetapi juga momentum refleksi tentang bagaimana manusia, sejak zaman kuno hingga era modern, memaknai langit dengan cara yang berbeda.

Sumber:

Data waktu gerhana: Informasi astronomi global dan perhitungan fase gerhana 3 Maret 2026.

Referensi mitologi: Literatur sejarah dan kajian antropologi budaya berbagai peradaban dunia.

(Red)