Transformasi Gaya Hidup: Fenomena "Decluttering" Generasi Baru 2026 dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental

Analisis mendalam mengenai tren decluttering tahun 2026 sebagai solusi kesehatan mental dan gerakan penyelamatan lingkungan melalui ekonomi sirkular.

Transformasi Gaya Hidup: Fenomena "Decluttering" Generasi Baru 2026 dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental
Rumah yang berantakan bisa bikin pikiran suntuk! Yuk, mulai tren decluttering 2026. Bukan cuma soal rapi, tapi soal ketenangan jiwa dan kepedulian pada bumi.




IKLAN RUTAN

iklan rutan

iklan rutan

 Batam24.com | JAKARTA – Memasuki awal tahun 2026, sebuah gerakan sosial yang dikenal sebagai decluttering telah berubah dari sekadar tren merapikan rumah menjadi sebuah ideologi hidup bagi Generasi Z dan Milenial di Indonesia. Di tengah tekanan ekonomi global dan paparan informasi digital yang tak henti-hentinya, masyarakat mulai menyadari bahwa tumpukan barang fisik di rumah berkontribusi langsung pada tingkat stres dan kecemasan. Fenomena ini bukan lagi soal membuang barang, melainkan tentang kurasi hidup.

Banyak komunitas di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung kini aktif mengadakan acara "Clothes Swap" atau tukar baju. Gerakan ini muncul sebagai respons terhadap isu limbah tekstil yang menjadi salah satu polutan terbesar di dunia. Para penganut gaya hidup ini hanya menyimpan barang-barang yang memiliki nilai fungsional tinggi atau yang mereka sebut sebagai "penghasil kebahagiaan". Secara psikologis, lingkungan yang bersih dan tertata terbukti mampu meningkatkan fokus serta produktivitas pekerja jarak jauh yang kini mendominasi pasar kerja. Pemerintah pun mulai melirik tren ini dengan menyediakan lebih banyak titik pengumpulan barang layak pakai untuk didistribusikan kepada yang membutuhkan, menciptakan sebuah ekosistem ekonomi sirkular yang sehat dan berkelanjutan.

(Dykha)