KATA-KATA PEMIMPIN YANG MENYAKITI: Tokoh Pemuda Timur Murka, Desak Li Claudia Minta Maaf atau Hadapi Aksi Massa

KATA-KATA PEMIMPIN YANG MENYAKITI: Tokoh Pemuda Timur Murka, Desak Li Claudia Minta Maaf atau Hadapi Aksi Massa




 

Batam24.com | Batam, 30 April 2026. Polemik pernyataan kontroversial Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, yang viral di TikTok dan media sosial terus memanas. Ucapan yang menyandingkan warga non-KTP Batam dengan label "tidak bekerja", "nyolong-nyolong", dan harus "dipulangkan" itu bukan sekadar omongan biasa, melainkan serangan yang melukai harga diri masyarakat dan mencederai semangat persatuan di kota yang dibangun oleh para perantau ini.

 

Reaksi keras datang dari Stenly, tokoh pemuda asal Indonesia Timur yang kini tinggal di Batam. Dalam pernyataan tegasnya, ia menilai ucapan tersebut sebagai bukti kurangnya kepekaan sosial dan pemahaman yang dangkal terhadap realitas kehidupan di lapangan.

 

"Itu Bukan Kebijakan, Itu Stigma yang Menghina!"

 

Menurut Stenly, Batam adalah kota migran. Jutaan orang dari berbagai daerah, termasuk dari Timur Indonesia, datang bukan untuk menjadi beban, melainkan untuk bekerja keras, berkarya, dan ikut membangun negeri ini. Menyamaratakan mereka sebagai pencuri hanya karena status administrasi atau kondisi ekonomi yang sulit adalah tindakan yang sangat tidak adil dan tidak beradab.

 

"Di kota ini, banyak saudara kita yang bekerja serabutan, berganti-ganti pekerjaan, berjuang di sektor informal hanya untuk menyambung hidup. Sulitnya akses lapangan kerja, ketimpangan ekonomi, dan minimnya perlindungan sosial adalah masalah sistemik, bukan karena mereka malas atau jahat. Tapi ketika pejabat publik bicara seenaknya, mereka seolah menutup mata pada penderitaan rakyat," tegas Stenly dengan nada emosional.

 

Ia juga menyoroti ironi yang mencolok dalam penegakan hukum di Batam. "Lihatlah realitanya! Orang kecil yang ambil pasir sedikit di parit langsung ditangkap dan dimaki di depan kamera. Tapi bagaimana dengan tambang pasir ilegal berskala raksasa di Nongsa dan wilayah lain? Kenapa sampai sekarang masih terlihat 'dibiarkan' dan tidak ditindak sekeras itu? Ini namanya hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah! Rakyat kecil yang jadi korban," serunya.

 

Kekecewaan Mendalam, Pernah Dukung Kini Kecewa

 

Stenly mengaku sangat kecewa karena dirinya dan kawan-kawan pernah menjadi bagian dari kekuatan yang mendukung kepemimpinan Li Claudia. "Kami percaya dulu bahwa beliau akan memimpin dengan hati, merangkul semua elemen tanpa memandang asal usul. Tapi nyatanya, ucapan yang keluar justru memecah belah dan menciptakan jarak yang sangat jauh antara pemimpin dan rakyatnya," ujarnya.

 

Ultimatum 2 Hari: Minta Maaf atau Aksi Damai Bergulir

 

Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan pembelaan terhadap martabat masyarakat, Stenly memberikan tenggat waktu 2 hari sejak berita ini dirilis. Ia menuntut Li Claudia Chandra untuk segera memberikan klarifikasi yang jujur dan permintaan maaf secara terbuka kepada publik, khususnya kepada mereka yang merasa tersinggung dan tersakiti oleh ucapannya.

 

"Permintaan maaf bukan tanda lemah, tapi tanda kedewasaan dan kemanusiaan. Jika dalam waktu yang ditentukan tidak ada langkah nyata, maka kami bersama ribuan pemuda dan masyarakat dari berbagai elemen akan turun ke jalan melakukan aksi damai. Kami akan menyampaikan aspirasi langsung ke Kantor Wali Kota Batam dan BP Batam. Kami tidak menolak aturan, tapi kami menuntut keadilan dan penghormatan!" tegasnya.

 

Peringatan Keras untuk Pemimpin

 

Di akhir pernyataannya, Stenly mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah, dan bahasa kekuasaan harus digunakan untuk membangun, bukan untuk merendahkan.

 

"Batam adalah rumah bagi semua. Tidak boleh ada diskriminasi, tidak boleh ada stigma. Seorang pemimpin harusnya menjadi ayah dan ibu bagi seluruh rakyatnya, bukan menjadi hakim yang menghakimi tanpa empati. Segera perbaiki sikap, minta maaf dengan tulus, dan buktikan bahwa kepemimpinan ini benar-benar berpihak pada rakyat kecil!" tutupnya. (Tim)