Asal-Usul Benang Tridatu, Simbol Suci Pengingat Jati Diri Umat Hindu Bali
Batam24.com l Bali – Benang Tridatu yang sering terlihat melingkar di pergelangan tangan umat Hindu Bali bukan sekadar hiasan atau aksesoris keagamaan. Untaian tiga warna ini memiliki makna spiritual yang mendalam dan merupakan warisan leluhur yang sarat nilai filosofi dalam ajaran Hindu.
Dalam catatan sejarah Bali, benang Tridatu telah dikenal sejak masa pemerintahan Raja Gelgel, Dalem Watu Renggong, yang memerintah sekitar abad ke-15. Pada masa itu, Tridatu digunakan sebagai simbol bagi mereka yang menjalani kehidupan dengan penuh bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta sebagai pengingat untuk tetap berada di jalan dharma dan menjaga kesadaran spiritual.
Secara simbolis, Tridatu bukanlah jimat. Benang ini melambangkan manifestasi kekuatan suci Trimurti beserta sakti-Nya yang diwujudkan dalam tiga warna utama, yaitu merah, putih, dan hitam.
Warna merah melambangkan kekuatan Mahalaksmi yang berkaitan dengan kemakmuran dan energi kehidupan. Warna putih melambangkan kekuatan Mahasaraswati yang identik dengan ilmu pengetahuan, kesucian, dan kebijaksanaan. Sementara warna hitam melambangkan kekuatan Mahakali yang berkaitan dengan kekuatan pelindung dan pelebur.
Makna tiga warna tersebut juga selaras dengan ajaran yang dijelaskan dalam kitab suci Hindu, salah satunya Sandilya Upanishad yang menjelaskan tentang manifestasi energi ilahi dalam kehidupan manusia.
Dalam kehidupan duniawi, filosofi Tridatu juga dikaitkan dengan konsep Triguna, yakni tiga sifat dasar alam yang mempengaruhi kesadaran manusia. Konsep ini banyak dijelaskan dalam kitab suci Bhagavad Gita.
Putih melambangkan Sattvam, yaitu sifat kemurnian, kebijaksanaan, dan kedamaian. Merah melambangkan Rajas yang menggambarkan aktivitas, keinginan, serta dinamika kehidupan. Sedangkan hitam melambangkan Tamas yang berkaitan dengan sifat kegelapan, ketidaktahuan, dan keterikatan pada hal-hal material.
Ketiga sifat tersebut diyakini membentuk kehidupan manusia. Namun dalam ajaran spiritual Hindu, tujuan akhir manusia adalah melampaui ketiganya untuk mencapai kesadaran murni atau Sudha Sattva menuju keadaan Brahma-Bhuta, yaitu kesatuan dengan Brahman sebagaimana dijelaskan dalam berbagai ajaran yang bersumber dari kitab suci Vedas.
Filosofi Tridatu juga berkaitan dengan berbagai manifestasi suci dalam ajaran Hindu Bali. Tiga warna tersebut melambangkan Brahma (merah), Wisnu (hitam), dan Iswara (putih) dalam konsep Dewata Nawa Sanga. Selain itu juga berkaitan dengan aksara suci ANG, UNG, dan MANG yang menggambarkan kekuatan penciptaan, pemeliharaan, serta peleburan.
Makna serupa juga tercermin dalam konsep Tridevi yang terdiri dari Saraswati, Mahalaksmi, dan Uma, serta manifestasi Tripurusa di Pura Besakih yaitu Paramashiva, Sadashiva, dan Shiva.
Lebih dari sekadar simbol keagamaan, benang Tridatu juga mengandung nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Tridatu menjadi pengingat akan ajaran Tri Kaya Parisudha, yakni kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Selain itu, Tridatu juga melambangkan siklus kehidupan manusia yang meliputi kelahiran, kehidupan, dan kembalinya manusia kepada asal mula.
Penjelasan mengenai simbol dan filosofi Tridatu juga banyak dikaji oleh lembaga keagamaan seperti Parisada Hindu Dharma Indonesia serta akademisi dari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar yang meneliti tradisi spiritual dan budaya Hindu Bali.
Dengan demikian, penggunaan benang Tridatu bukan hanya tradisi semata, tetapi juga menjadi simbol mawas diri bagi umat Hindu Bali untuk selalu mengingat hubungan spiritual dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta menjalani kehidupan sesuai dengan jalan dharma. (Red)





