Ekonomi Global 2026: Di Ambang Ketidakpastian Geopolitik dan Rekor Baru Harga Komoditas
Artikel ini mengulas kondisi ekonomi global terkini per Januari 2026, yang diwarnai oleh proyeksi pertumbuhan Bank Dunia, dampak ancaman tarif perdagangan AS terhadap mitra dagang Iran, serta lonjakan harga emas dan Bitcoin yang mencetak rekor sejarah di tengah ketidakpastian geopolitik.
Batam24.com | JAKARTA – Memasuki minggu kedua Januari 2026, wajah ekonomi global menampilkan dualitas yang kontras: ketahanan yang tak terduga di tengah bayang-bayang perang dagang dan ketegangan militer. Bank Dunia (World Bank) dalam laporan terbarunya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan berada di level 2,6% untuk tahun 2026, sebuah revisi naik dari estimasi sebelumnya, namun tetap menandai dekade 2020-an sebagai periode pertumbuhan terlemah sejak era 1960-an.
Ketegangan Geopolitik dan Ancaman Tarif Faktor utama yang mengguncang pasar pekan ini adalah ancaman Presiden AS, Donald Trump, yang akan memberlakukan tarif 25% bagi negara-negara mitra dagang Iran. Langkah ini diambil menyusul memanasnya situasi di Timur Tengah yang mengancam jalur logistik energi vital di Selat Hormuz. China, India, dan Turki disebut sebagai negara yang paling rentan terkena dampak dari kebijakan proteksionisme ini.
Emas dan Bitcoin Cetak Rekor Di tengah ketidakpastian ini, investor berbondong-bondong mengamankan aset mereka ke instrumen safe haven. Harga emas dunia di pasar spot hari ini, Rabu (14/1/2026), mencetak rekor sejarah baru di level $4.634 per troy ons. Di dalam negeri, harga emas Antam pun ikut meroket hingga menembus Rp2,65 juta per gram. Sementara itu, Bitcoin tetap menunjukkan taringnya dengan bertahan di kisaran $95.000, didorong oleh spekulasi pelonggaran kebijakan moneter AS di masa depan.
Nasib Mata Uang dan Inflasi Kontras dengan penguatan dolar, mata uang Iran, Rial, mengalami kehancuran nilai tukar yang ekstrem hingga menyentuh angka 1,04 juta rial per 1 USD. Di Indonesia, nilai tukar Rupiah terpantau masih bergerak fluktuatif namun cukup stabil di level Rp16.815 per dolar AS, didukung oleh indikator stabilitas yang dijaga ketat oleh Bank Indonesia.
Meskipun inflasi global diprediksi melandai ke angka 3,1% tahun ini, para ahli memperingatkan bahwa volatilitas harga minyak mentah akibat blokade jalur distribusi dapat memicu kembali tekanan harga yang memberatkan konsumen di berbagai negara.
(Dykha)





