Medan Ekstrem dan Cuaca Buruk Hambat Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung
Artikel ini menyajikan pemutakhiran (update) terbaru proses evakuasi pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Fokus berita meliputi penemuan korban pertama, tantangan medan ekstrem di jurang sedalam 200 meter, serta keterlibatan pegawai KKP dalam misi tersebut.
Batam24.com | PANGKEP, 19 Januari 2026 – Operasi SAR gabungan untuk mengevakuasi korban dan puing pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) terus dipacu di tengah tantangan cuaca ekstrem. Hingga Senin pagi, tim SAR fokus mengevakuasi satu jenazah yang berhasil ditemukan di jurang sedalam 200 meter di kawasan lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Pesawat turboprop tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1) saat menempuh rute Yogyakarta menuju Makassar. Pesawat yang disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk misi pengawasan udara ini membawa 10 orang, terdiri dari 7 kru pesawat dan 3 pegawai KKP.
Proses Evakuasi yang Dramatis Kepala Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengungkapkan bahwa tim SAR terpaksa menginap (camp) di sekitar lokasi penemuan jenazah pada Minggu malam karena jarak pandang yang sangat terbatas akibat kabut tebal, yakni hanya berkisar 3 hingga 5 meter.
"Medan di lokasi sangat berat dengan kemiringan tebing mencapai 90 derajat. Kemarin kami sudah mencoba teknik hoisting (penarikan) namun terkendala angin kencang dan kabut. Pagi ini, dua opsi disiapkan: evakuasi udara menggunakan Helikopter Caracal atau melalui jalur darat lewat Balocci jika cuaca tidak memungkinkan," ujar Andi Sultan.
Temuan Puing dan Investigasi KNKT Selain penemuan satu korban laki-laki, tim di lapangan juga telah mengamankan beberapa bagian besar pesawat seperti ekor dan jendela, serta objek yang diduga merupakan kotak hitam (black box). Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengategorikan insiden ini sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), di mana pesawat menabrak lereng gunung dalam kondisi mesin yang diduga masih terkontrol.
Pihak KKP mengonfirmasi ketiga pegawainya yang berada di dalam pesawat adalah Deden Mulyana, Ferry Irawan, dan Yoga Naufal. Saat ini, keluarga korban telah berada di posko Crisis Center Bandara Internasional Sultan Hasanuddin untuk menunggu proses identifikasi lebih lanjut oleh tim DVI Polda Sulsel.
Operasi hari ini melibatkan lebih dari 400 personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan pecinta alam. Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati area pendakian Gunung Bulusaraung guna kelancaran proses evakuasi.
(Dykha)





