HKTI Gandeng Mitra Santri Berkarya, Target Serap 5.000 Ton Batok Kelapa per Bulan

HKTI Gandeng Mitra Santri Berkarya, Target Serap 5.000 Ton Batok Kelapa per Bulan
Foto Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama oleh Ketua Kop-HKTI, Diana Widiastuti, dan Ketua Koperasi Produsen MSB, KH. Ahmad Romli Latif, di Swiss-Belhotel, Jalan Rasuna Said Nomor 18, Teluk Betung, Bandar Lampung, Jumat (16/10/2026).



BATAM24.COM, BANDAR LAMPUNG – Koperasi Produsen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (Kop-HKTI) menjalin kerja sama dengan Koperasi Produsen Mitra Santri Berkarya (MSB) dalam penyerapan bahan baku batok kelapa dengan target mencapai 5.000 ton per bulan. Kerja sama ini diharapkan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekaligus mendorong hilirisasi komoditas kelapa di Provinsi Lampung.

Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama oleh Ketua Kop-HKTI, Diana Widiastuti, dan Ketua Koperasi Produsen MSB, KH. Ahmad Romli Latif, di Swiss-Belhotel, Jalan Rasuna Said Nomor 18, Teluk Betung, Bandar Lampung, Jumat (16/10/2026).

Melalui kerja sama tersebut, pasokan batok kelapa akan dihimpun dari seluruh wilayah Lampung untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pengolahan. Selain menargetkan penyerapan 5.000 ton batok kelapa setiap bulan, kerja sama ini juga diarahkan untuk menghasilkan produksi arang batok kelapa sebanyak 1.800 ton per bulan.

Kepala Regional Sumatera Koperasi HKTI, Syamsul, S.H., mengatakan kerja sama tersebut merupakan langkah untuk mengoptimalkan potensi komoditas kelapa sekaligus meningkatkan nilai ekonomi batok kelapa yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Menurut Syamsul, penyerapan bahan baku dalam jumlah besar membutuhkan dukungan pasokan yang berkelanjutan serta keterlibatan masyarakat dari berbagai daerah penghasil kelapa di Lampung.

Dengan demikian, kerja sama antarkoperasi ini diharapkan tidak hanya mendukung kebutuhan produksi, tetapi juga membuka ruang bagi petani dan pelaku usaha lokal untuk mengambil bagian dalam rantai pasok komoditas kelapa.

“Dengan adanya kerja sama ini, kami berharap dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, khususnya para petani dan pelaku usaha komoditas kelapa. Kami ingin potensi kelapa di Lampung dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga memberikan nilai tambah serta meningkatkan pendapatan masyarakat,” ungkap Syamsul.

Dorong Hilirisasi dan Peluang Ekonomi Masyarakat

Kerja sama penyerapan batok kelapa tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi, yakni pengolahan bahan baku menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi.

Batok kelapa yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah atau hasil samping pengolahan kelapa memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai jual, salah satunya arang batok kelapa.

Melalui target penyerapan 5.000 ton per bulan, potensi bahan baku dari berbagai wilayah Lampung diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih terorganisasi. Kegiatan tersebut juga berpeluang menggerakkan usaha pengumpulan bahan baku, transportasi, hingga aktivitas pendukung proses produksi.

Bagi petani dan masyarakat, tersedianya peluang penyerapan diharapkan dapat memberikan alternatif pendapatan dari pemanfaatan hasil samping komoditas kelapa. Sementara itu, pelaku usaha lokal berpotensi terlibat dalam penyediaan dan distribusi bahan baku sesuai kebutuhan mitra pengolahan.

Syamsul berharap kerja sama tersebut dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh koperasi, tetapi juga menjangkau masyarakat di daerah penghasil kelapa.

Menurutnya, keberhasilan pengembangan usaha ini membutuhkan koordinasi yang baik antara koperasi, pemasok, dan mitra usaha, terutama dalam menjaga ketersediaan bahan baku serta memenuhi kebutuhan produksi.

Dalam kegiatan penandatanganan perjanjian tersebut, Diana Widiastuti didampingi Sekretaris Kop-HKTI, Mario Viera, serta Kepala Regional Sumatera Koperasi HKTI, Syamsul, S.H.

Melalui kolaborasi ini, Kop-HKTI dan Koperasi Produsen MSB diharapkan dapat memperkuat rantai pasok batok kelapa, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, serta mendorong tumbuhnya peluang usaha baru bagi petani dan masyarakat di seluruh wilayah Lampung.

(Rara)