Nelayan Geram, Pemerintah Dinilai Lamban Tangani Pencemaran Minyak Hitam di Bintan

Nelayan Geram, Pemerintah Dinilai Lamban Tangani Pencemaran Minyak Hitam di Bintan
foto dipinggir pantai




IKLAN RUTAN

iklan rutan

iklan rutan

Batam24.com l BINTAN – Pencemaran minyak hitam kembali menghantui perairan Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Nelayan menilai Pemerintah Kabupaten Bintan dan Pemerintah Provinsi Kepri lamban dan tidak sigap menangani persoalan yang sudah berlangsung hampir sepekan ini.

Ratusan karung berisi minyak hitam dilaporkan berserakan di pesisir pantai Pulau Pucung, Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, bahkan menyebar hingga Pantai Trikora 4. Kondisi ini membuat nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut dan memicu keresahan wisatawan.

“Sudah hampir sepekan, tapi belum ada pembersihan nyata. Yang terlihat hanya rapat-rapat saja,” ujar seorang nelayan Malang Rapat yang enggan disebutkan namanya, Senin (2/2/2026).

Menurutnya, penanganan seharusnya bisa diselesaikan dalam dua hingga tiga hari jika koordinasi antarinstansi berjalan cepat. Namun hingga kini, minyak hitam masih menumpuk di pesisir dan sebagian karung sudah pecah.

“Kalau dibiarkan, dampaknya makin luas. Jaring nelayan kena minyak, susah dibersihkan, kami tidak bisa melaut,” tegasnya.

Keluhan serupa disampaikan warga Malang Rapat lainnya, Hairuddin. Ia menyebut minyak hitam mulai terdeteksi sejak tiga hari lalu dan jumlahnya terus bertambah.

“Awalnya sedikit, sekarang makin banyak. Baunya menyengat. Nelayan dari Berakit dan Teluk Bakau juga mengeluhkan hal yang sama,” kata Hairuddin.

Ia menyayangkan, meski petugas dari DLHK Kepri, Dinas Perikanan, dan pihak Kecamatan Gunung Kijang telah turun ke lokasi, belum ada pembersihan menyeluruh.

“Itu minyak masih menumpuk di pantai,” ujarnya sambil menunjuk ke arah pesisir.

Wisatawan Resah, Pariwisata Terancam

Pencemaran ini tak hanya memukul nelayan, tetapi juga mengancam sektor pariwisata. Sejumlah wisatawan di Pantai Trikora memilih mengurungkan niat berenang karena jijik melihat karung-karung minyak hitam berserakan.

“Saya mau berenang, tapi lihat karung minyak hitam di pantai jadi geli,” ujar Nopi, salah seorang wisatawan.

Ia mengungkapkan, selain di pasir, karung berisi minyak hitam juga terlihat mengapung dan tergenang di laut.

Sebelumnya, pencemaran serupa juga terjadi di kawasan Mutiara Beach Resort dengan volume lebih banyak dan aroma yang sangat menyengat.

Pemilik Mutiara Beach Resort, Marc Thalmann, menegaskan laut merupakan aset vital Bintan, baik bagi pariwisata maupun nelayan.

“Laut adalah aset penting, bukan hanya untuk pariwisata tetapi juga sumber penghidupan masyarakat,” ujarnya.

Ia mengingatkan, pencemaran limbah minyak dapat merusak citra Bintan sebagai destinasi wisata bersih dan nyaman.

“Kejadian seperti ini sangat menyedihkan. Dampaknya bukan hanya ke pelaku usaha, tapi juga karyawan, pemasok, masyarakat, hingga penerimaan pajak pemerintah,” tegas Marc.

Pemerintah Janji Serius, Publik Tunggu Aksi Nyata

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kepri, Hendri, menyatakan pihaknya akan serius menangani fenomena tumpahan minyak hitam yang kerap terjadi saat musim utara.

“Tumpahan minyak terjadi di tengah laut dan terbawa arus ke pesisir seperti Nongsa, Batam, hingga Trikora dan Lagoi Bintan,” jelasnya.

Ia menyebut selama ini DLHK bersama masyarakat melakukan pembersihan dan pemusnahan limbah minyak dengan dukungan anggaran Kementerian Lingkungan Hidup.

“Ke depan kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menuntaskan persoalan ini,” katanya.

Namun bagi nelayan dan pelaku wisata, janji koordinasi saja tak lagi cukup. Mereka mendesak aksi cepat, penelusuran sumber pencemaran, serta pengawasan laut yang lebih ketat, agar peristiwa serupa tidak terus berulang dan merugikan banyak pihak. (Ron/Rara)