Perda Kearifan Lokal Dibahas, Tokoh Adat Usul Tutup THM Saat 1 Muharram di Batam

Perda Kearifan Lokal Dibahas, Tokoh Adat Usul Tutup THM Saat 1 Muharram di Batam




IKLAN RUTAN

iklan rutan

iklan rutan

Batam24.com l Batam – Panglima Besar Pasukan Adat Gagak Hitam, Arba Udin yang akrab disapa Udin Pelor, menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kota Batam tentang Lembaga Adat Melayu, yang digelar di Kantor DPRD Kota Batam, Selasa (3/2/2026).

RDP tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat Melayu Kota Batam serta perwakilan Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau dan LAM Kota Batam. Dalam kesempatan itu, Udin Pelor menyampaikan sejumlah usulan strategis yang dinilai penting untuk menjaga kearifan lokal serta keharmonisan sosial di Batam.

Menurutnya, Batam merupakan tanah adat Melayu yang perlu dijaga nilai-nilai budayanya. Salah satu poin yang diusulkan adalah penguatan nilai keislaman dalam konteks budaya Melayu, termasuk penghormatan terhadap hari besar Islam, khususnya 1 Muharram Tahun Baru Islam.

“Setidaknya satu malam saja, pada malam 1 Muharram, tempat hiburan malam, diskotik, dan usaha yang menjual alkohol ditutup total sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan kearifan lokal Melayu,” ujarnya.

Ia menegaskan, usulan tersebut bukan untuk menutup seluruh aktivitas ekonomi. Rumah makan dan restoran yang tidak menjual minuman beralkohol tetap diperbolehkan beroperasi. Namun, bagi usaha yang tetap menjual alkohol pada malam tersebut, pihaknya mendorong adanya sanksi tegas setelah Perda diterbitkan.

“Kita tidak menuntut semuanya ditutup total seperti Nyepi di Bali, tapi minimal ada contoh penghormatan terhadap budaya lokal di tanah Melayu,” tambahnya.

Selain itu, Udin Pelor juga menyoroti persoalan ketenagakerjaan. Ia mendorong Lembaga Adat Melayu agar lebih proaktif dalam memperjuangkan hak pekerjaan, tidak hanya bagi anak Melayu, tetapi juga bagi masyarakat yang lahir dan besar di Batam.

“Anak-anak tempatan yang lahir dan besar di Batam harus mendapat perhatian. Jika ada keluhan terkait kesempatan kerja di perusahaan, Lembaga Adat Melayu harus hadir, menanggapi, dan memfasilitasi,” tegasnya.

Ia menutup penyampaiannya dengan ajakan menjaga persatuan dan kondusivitas Kota Batam.

“Mari kita jaga Batam tetap aman dan damai. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tidak perlu lagi ada perpecahan antar suku dan agama. Kita semua adalah anak perempatan, mari bangkit bersama untuk Batam yang lebih baik,” pungkasnya. (Rara)