IHSG Menuju Rekor Baru: Analisis Agresivitas Inflow Asing dan Rebound Sektor Perbankan Blue Chip
Analisis mendalam mengenai pergerakan IHSG yang didorong oleh aliran modal asing pada saham perbankan serta proyeksi teknikal arah pasar modal Indonesia.
Batam24.com | JAKARTA – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir Januari 2026 ini menunjukkan performa yang sangat impresif, di mana indeks berhasil menembus area resisten krusial dan bersiap menuju level psikologis baru yang belum pernah tercapai sebelumnya. Pergerakan bullish ini dipicu oleh akumulasi masif yang dilakukan oleh investor institusi global melalui aksi beli bersih (net foreign buy) yang mencapai angka triliunan rupiah dalam hitungan hari. Fokus utama aliran modal asing ini tertuju pada saham-saham perbankan berkapitalisasi pasar besar (Big Caps) seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Fundamental perbankan Indonesia dinilai sangat solid oleh analis global, didorong oleh pertumbuhan kredit yang stabil serta kemampuan bank dalam menjaga rasio margin bunga bersih (NIM) yang tetap kompetitif di tengah fluktuasi suku bunga dunia.
Secara teknikal, IHSG telah membentuk pola bullish continuation pada kerangka waktu harian dan mingguan, yang mengindikasikan bahwa tren kenaikan ini masih memiliki tenaga yang cukup kuat untuk berlanjut. Para trader profesional kini beralih menggunakan strategi trend following untuk memaksimalkan keuntungan dari momentum ini. Selain sektor perbankan, sektor teknologi dan infrastruktur digital juga mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan setelah mengalami fase konsolidasi panjang. Kehadiran emiten-emiten baru dari sektor energi terbarukan juga memberikan warna baru bagi IHSG, menarik minat investor yang berfokus pada standar ESG (Environmental, Social, and Governance). Namun, para pelaku pasar tetap diingatkan untuk waspada terhadap potensi aksi ambil untung (profit taking) jangka pendek, terutama saat indeks mendekati area jenuh beli (overbought) pada indikator RSI. Manajemen risiko melalui penentuan titik stop loss yang disiplin dan diversifikasi portofolio antar sektor tetap menjadi kunci utama bagi para trader untuk bertahan dan sukses di tengah dinamika pasar modal yang sangat likuid saat ini. Sentimen positif dari stabilitas politik nasional dan penguatan nilai tukar Rupiah juga menjadi katalisator tambahan yang menjaga optimisme pasar hingga penutupan kuartal pertama tahun 2026.
(Dykha)





