Amsakar dan Li Claudia Tampilkan Ragam Budaya, Pawai Pembangunan Batam Jadi Panggung Nusantara

Amsakar dan Li Claudia Tampilkan Ragam Budaya, Pawai Pembangunan Batam Jadi Panggung Nusantara
Foto Amsakar dan Li Claudia Tampilkan Ragam Budaya, Pawai Pembangunan Batam Jadi Panggung Nusantara




Batam24.com | BATAM – Wali Kota Batam Amsakar Achmad tampil mengenakan pakaian Melayu, sementara Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra mengenakan busana adat Kalimantan Barat.

Keduanya berdiri berdampingan di tengah semarak Pawai Pembangunan Batam, Minggu (9/8/2026).

Pemandangan itu menjadi gambaran sederhana tentang Batam, sebuah kota yang dihuni masyarakat dari berbagai daerah, membawa budaya masing-masing, lalu bertemu dan tumbuh dalam ruang yang sama.

Di tengah rangkaian acara, Amsakar dan Li Claudia membagikan bendera Merah Putih kepada perwakilan camat dan paguyuban masyarakat. Pembagian tersebut merupakan bagian dari Gerakan Nasional Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih.

Bendera itu selanjutnya dibawa ke lingkungan masyarakat untuk dikibarkan dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah pembagian bendera, Amsakar dan Li Claudia turut melepas iring-iringan pawai bersama jajaran Forkopimda dan perangkat daerah Pemko Batam. Ketua Tim Penggerak PKK Kota Batam, Hj. Erlita Amsakar, juga hadir dan ikut melambaikan tangan kepada para peserta.

Sejak pagi, kawasan sekitar Engku Hamidah, Batam Centre, dipadati warga. Anak-anak hingga orang dewasa berdiri di sepanjang jalan menyaksikan iring-iringan peserta yang mulai melintas.

Senyum dan lambaian tangan dari para pejabat dan tamu undangan dibalas para peserta. Warga pun mengabadikan momen tersebut dengan telepon genggam, sementara anak-anak tampak antusias menyaksikan rombongan kesenian dan kendaraan hias.

Musik tradisional berpadu dengan suara marching band. Busana adat, tarian, kendaraan hias, dan berbagai kesenian daerah silih berganti menyita perhatian warga.

Pawai Pembangunan diikuti 49 kelompok dari unsur pemerintah, TNI-Polri, dan swasta. Sementara itu, Pawai Budaya Nusantara melibatkan sekitar 10.000 peserta dari berbagai paguyuban masyarakat di Batam.

Peserta datang membawa identitas daerah masing-masing. Bengkulu, Jawa Timur, Lampung, Yogyakarta, Bali, Kalimantan, Maluku, Jambi hingga berbagai daerah di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Sulawesi tampil dengan ciri khasnya.

Paguyuban masyarakat Tionghoa, seperti Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) dan Perkumpulan Teochew, turut menjadi bagian dari perayaan. Beragam identitas tersebut berpadu dalam satu iring-iringan yang sama.

Suasana semakin meriah dengan penampilan marching band dan Bahana Barelang Drum Corps (BBDC) binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam.

Setiap rombongan membawa cerita sendiri. Ada yang menampilkan ikon Kota Batam, ornamen budaya, hingga properti yang menggambarkan identitas daerah dan paguyuban masing-masing.

Di tengah perbedaan itu, tak ada jarak yang terlihat. Semua berjalan dalam satu barisan, menyusuri jalan yang sama dan merayakan kemerdekaan bersama.

Semangat kebersamaan itu menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.

Merah Putih dibagikan, budaya ditampilkan, dan masyarakat turun bersama ke jalan.

Hari itu, Batam tidak sekadar menggelar pawai. Kota ini memperlihatkan wajahnya sebagai ruang tempat berbagai budaya Indonesia bertemu, berdampingan, dan merayakan kemerdekaan dalam satu kebersamaan. (Rara)