Akses Jalan ke TPU Sibulang Rusak Parah, Warga Galang Desak BP Batam dan Pemko Bertindak
Batam24.com l Batam, Kepri – Kondisi jalan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sibulang, Kecamatan Galang, Kota Batam, kian memprihatinkan. Akses satu-satunya menuju lokasi pemakaman tersebut dilaporkan rusak berat, dipenuhi lubang dan genangan, serta nyaris tak layak dilalui, terutama saat hujan turun.
Kerusakan ini bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan menyangkut sisi kemanusiaan. Warga mengaku kerap mengalami kesulitan saat mengantar jenazah ke pemakaman. Kendaraan harus berjalan sangat pelan untuk menghindari lubang, bahkan tak jarang terancam mogok akibat kondisi jalan yang berlumpur dan rusak.
“Ini akses ke pemakaman umum, bukan jalan alternatif. Semua orang pasti akan membutuhkannya suatu saat nanti. Tapi kondisinya seperti dibiarkan,” ujar seorang warga dengan nada kecewa.

Menurut warga, persoalan ini bukan baru terjadi. Keluhan sudah berulang kali disampaikan, namun hingga kini belum terlihat langkah konkret dari BP Batam maupun dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kota Batam. Padahal, Galang merupakan bagian dari wilayah administratif Batam yang seharusnya mendapat perhatian pembangunan yang setara.
Masyarakat menilai, pembiaran terhadap akses menuju TPU mencerminkan lemahnya prioritas terhadap fasilitas dasar yang menyentuh kebutuhan sosial masyarakat. Jalan menuju tempat peristirahatan terakhir bukan sekadar proyek fisik, melainkan wujud penghormatan terhadap martabat warga.
Warga Sibulang mendesak BP Batam, Dinas Bina Marga, serta instansi teknis lainnya segera turun langsung ke lapangan untuk melakukan peninjauan dan perbaikan menyeluruh. Mereka berharap langkah nyata, bukan sekadar survei dan janji perencanaan.
Tak hanya itu, masyarakat juga meminta Aparat Penegak Hukum (APH) melakukan pengawasan agar tidak terjadi pembiaran berkepanjangan terhadap fasilitas umum yang jelas-jelas menjadi kebutuhan publik.
Jika kondisi ini terus berlarut, bukan hanya akses jalan yang rusak—kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah pun terancam ikut tergerus. Warga menegaskan, mereka tidak menuntut infrastruktur mewah. Mereka hanya meminta satu hal sederhana: jalan yang layak dan manusiawi untuk mengantar orang-orang tercinta ke peristirahatan terakhir. (Rara)





