Revolusi Kendaraan Listrik: Prospek Cerah Trading Saham Komoditas Nikel dan Tembaga Indonesia

Analisis mendalam mengenai peluang trading saham sektor nikel dan tembaga yang didorong oleh industri kendaraan listrik dan kebijakan hilirisasi mineral Indonesia.

Revolusi Kendaraan Listrik: Prospek Cerah Trading Saham Komoditas Nikel dan Tembaga Indonesia
Nikel Indonesia jadi rebutan dunia! Permintaan baterai EV bikin harga komoditas tambang melambung. Saatnya koleksi saham mineral pilihanmu!




IKLAN RUTAN

iklan rutan

iklan rutan

Batam24.com | JAKARTA – Sektor komoditas mineral, khususnya nikel dan tembaga, kini menjadi pusat perhatian para trader di Bursa Efek Indonesia seiring dengan percepatan revolusi kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di kancah global. Indonesia, sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, memiliki posisi tawar yang sangat kuat dalam menentukan arah harga nikel internasional. Kebijakan hilirisasi yang konsisten dijalankan pemerintah telah memicu pembangunan smelter secara masif, yang secara langsung meningkatkan margin keuntungan emiten-emiten pertambangan seperti ANTM, INCO, dan MDKA. Harga nikel di London Metal Exchange (LME) juga terpantau stabil di level tinggi, didorong oleh permintaan baterai EV yang terus melonjak dari produsen otomotif raksasa di China dan Eropa.

Para trader saham melihat peluang besar pada saham-saham sektor mineral ini melalui strategi position trading, yakni menyimpan saham dalam jangka menengah hingga panjang untuk menangkap tren "Super Cycle" komoditas. Secara teknikal, saham-saham nikel menunjukkan pola akumulasi yang rapi dengan indikator volume yang terus meningkat, menandakan adanya minat besar dari investor institusi. Selain nikel, tembaga juga menjadi komoditas strategis karena perannya yang vital dalam infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik dan jaringan energi terbarukan. Trader disarankan untuk selalu memantau data ekonomi dari China, sebagai konsumen mineral terbesar dunia, serta kebijakan perdagangan internasional yang dapat mempengaruhi kuota ekspor produk olahan mineral Indonesia. Keberhasilan integrasi industri dari hulu ke hilir, termasuk rencana produksi sel baterai lokal di tahun 2026, menjadi katalisator fundamental yang sangat kuat bagi keberlanjutan kenaikan harga saham di sektor ini. Dengan prospek transisi energi hijau yang tidak terelakkan, berinvestasi dan melakukan trading di saham-saham komoditas mineral merupakan langkah cerdas bagi para pelaku pasar yang ingin mendapatkan keuntungan dari perubahan tren ekonomi dunia.

(Dykha)