Data Center Berdiri di Tengah Pulau yang Kekeringan, Batam Harus Memilih Investasi atau Menjaga Air?

Investasi data center dan AI di Batam tumbuh pesat, termasuk rencana NVIDIA DSX AI Factory 360 MW. Di tengah ketergantungan Batam pada air hujan dan waduk, bagaimana pemerintah menjamin kebutuhan air masyarakat?

Data Center Berdiri di Tengah Pulau yang Kekeringan, Batam Harus Memilih Investasi atau Menjaga Air?
Gambar ilustrasi ai data center batam




BATAM – Di satu sisi, Batam sedang bersiap menyambut salah satu infrastruktur kecerdasan buatan terbesar di kawasan Asia Pasifik. Di sisi lain, pulau ini masih harus bergantung pada air hujan yang ditampung di waduk untuk memenuhi kebutuhan air bakunya.

Firmus Technologies pada Juni 2026 mengumumkan kemitraan strategis dengan NVIDIA hingga 2034, dengan pembangunan kampus NVIDIA DSX AI Factory berkapasitas 360 megawatt (MW) di Batam bersama DayOne. Proyek tersebut direncanakan menampung hingga 170.000 akselerator AI NVIDIA secara bertahap pada 2027–2028.

Ini tentu kabar besar bagi Batam.

Investasi semacam ini dapat membawa Batam melompat dari kota industri manufaktur menjadi salah satu simpul ekonomi digital dan AI di Asia Tenggara.

Tetapi ada pertanyaan yang tidak boleh tenggelam oleh besarnya angka investasi:

Apakah sumber daya Batam siap menanggungnya?

Batam Bukan Pulau yang Kaya Air

Judul tulisan ini menggunakan frasa “pulau yang kekeringan” sebagai kritik terhadap kerentanan air Batam, bukan untuk menyatakan seluruh Batam saat ini sedang mengalami kekeringan.

Faktanya lebih kompleks sekaligus mengkhawatirkan.

BP Batam menjelaskan Pulau Batam tidak memiliki sungai yang mengalir sepanjang tahun ke waduk. Ketersediaan air baku sangat bergantung pada curah hujan yang jatuh di daerah tangkapan air dan kemudian ditampung di waduk.

Bahkan pada Mei 2026, BP Batam menyiapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan untuk menghadapi potensi kemarau panjang Juni–Agustus.

BP Batam ketika itu menyebut Waduk Nongsa, Sei Ladi, Sei Harapan, Mukakuning, Tembesi dan Duriangkang menjadi perhatian akibat penurunan permukaan air baku yang cukup signifikan.

Sederhananya, kita sedang berbicara tentang sebuah pulau yang ingin menjadi rumah bagi mesin komputasi paling canggih di dunia, sementara untuk menjaga cadangan airnya saja pemerintah harus mempertimbangkan membuat hujan buatan.

Bukankah ironi ini layak dipertanyakan?

  • Data Center Datang dengan Kebutuhan Sumber Daya
  • Data center bukan sekadar bangunan besar berisi komputer.

Di dalamnya terdapat ribuan hingga ratusan ribu perangkat yang bekerja terus-menerus, menghasilkan panas dan membutuhkan energi serta sistem pendinginan dalam skala besar.

Firmus sendiri menyatakan fasilitas Batam akan menggunakan arsitektur HyperCube yang liquid-cooled, terintegrasi dengan platform NVIDIA DSX. Artinya, pembahasan mengenai kebutuhan sumber daya dan sistem pendinginan proyek tersebut bukan sesuatu yang dapat diabaikan.

Namun penting pula untuk tidak menyederhanakan persoalan: liquid cooling tidak otomatis berarti seluruh air pendingin diambil dari jaringan air bersih Batam dan kemudian dibuang. Desain sistem, sirkulasi tertutup, sumber air, teknologi pendinginan dan penggunaan kembali air akan sangat menentukan konsumsi aktual.

Justru informasi inilah yang seharusnya dibuka kepada publik.

  • Berapa kebutuhan airnya?
  • Dari mana air tersebut berasal?
  • Berapa yang dapat digunakan kembali?

Apakah menggunakan air baku Batam, air hasil pengolahan, desalinasi, atau teknologi lain?

Dan yang paling penting: apakah kebutuhan industri tersebut dapat dijamin tidak mengurangi hak masyarakat mendapatkan air bersih?

Proyeksi 32 Juta Liter Air per Hari

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar.

Kajian khusus Katadata mengenai perkembangan data center Batam memperkirakan apabila 10 data center di Batam beroperasi penuh pada 2032, kebutuhan airnya dapat mencapai sekitar 32 juta liter per hari.

Jumlah itu disebut setara sekitar 8,4 persen dari total suplai air Batam saat ini dan secara volume setara kebutuhan sekitar 320 ribu orang.

Sekali lagi, angka tersebut merupakan proyeksi, bukan konsumsi aktual seluruh data center Batam hari ini.

Namun justru karena proyek-proyek tersebut belum seluruhnya beroperasi penuh, sekarang adalah waktu terbaik untuk mempersiapkan infrastrukturnya.

Jangan menunggu server menyala, investasi selesai dibangun, kemudian baru bertanya dari mana airnya.

Investasi Harus Datang Bersama Infrastruktur

Tidak ada alasan untuk menolak data center hanya karena membutuhkan sumber daya.

Batam membutuhkan investasi.

Kita membutuhkan lapangan kerja baru, transfer teknologi, peningkatan kemampuan tenaga kerja lokal, pembangunan infrastruktur digital serta sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Firmus, NVIDIA dan DayOne bahkan berpotensi menempatkan nama Batam dalam peta infrastruktur AI dunia. Proyek 360 MW dengan hingga 170.000 akselerator AI merupakan skala yang sangat besar.

Tetapi investasi bernilai besar semestinya datang bersama tanggung jawab yang juga besar.

Pemerintah tidak cukup hanya mengumumkan nilai investasi, kapasitas megawatt dan jumlah GPU.

Publik juga berhak mengetahui berapa kebutuhan listrik, kebutuhan air, sumber air, teknologi pendinginan, dampak lingkungan dan mitigasinya.

Data center yang baik seharusnya tidak membuat masyarakat di sekelilingnya khawatir kehilangan sumber daya dasar.

Jangan Sampai Warga Berebut Air dengan Server

Bayangkan sebuah kondisi beberapa tahun ke depan.

Di dalam sebuah kawasan, puluhan ribu GPU bekerja selama 24 jam untuk melayani kecerdasan buatan dunia.

Sementara beberapa kilometer dari sana, masyarakat masih bertanya kapan air mengalir.

Situasi seperti itulah yang harus dicegah sejak sekarang.

Teknologi seharusnya meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan membuat manusia berkompetisi mendapatkan sumber daya dengan teknologi.

Karena itu, prinsip pembangunan data center di Batam semestinya sederhana:

air untuk masyarakat harus tetap menjadi prioritas.

Industri berskala besar harus didorong menggunakan teknologi yang semakin efisien, sistem sirkulasi tertutup, pemanfaatan kembali air dan—apabila memungkinkan secara teknis serta ekonomis—sumber air alternatif.

Batam Sebenarnya Sudah Mencari Jalan Keluar

Kabar baiknya, pemerintah tampaknya memahami bahwa kapasitas air Batam memang harus diperbesar.

Dalam Renstra BP Batam 2025–2029, kebutuhan air baku kawasan Barelang pada 2030 diproyeksikan mencapai sekitar 8.505 liter per detik.

BP Batam merencanakan sejumlah langkah, mulai dari rehabilitasi daerah tangkapan air, pengerukan sedimentasi waduk, pembangunan stoplock dam, rencana Waduk Laut Galang-Galang Baru hingga Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

Menariknya, tahap pertama SWRO justru direncanakan di Nongsa dengan kapasitas 300 liter per detik.

Ini merupakan arah yang patut didorong.

Batam dikelilingi laut. Jika industri digitalnya ingin berkembang dalam skala raksasa, teknologi desalinasi, daur ulang air dan efisiensi pendinginan semestinya berkembang sama cepatnya dengan pembangunan data center.

Jangan Anti-Investasi, Tapi Jangan Mabuk Investasi

Tulisan ini bukan ajakan menolak NVIDIA, Firmus, DayOne ataupun investasi data center.

Sebaliknya, Batam harus mengambil peluang tersebut.

Tetapi jangan sampai kita terlalu terpukau dengan istilah AI Factory, 360 MW dan 170.000 GPU, lalu melupakan sesuatu yang jauh lebih sederhana:

air.

AI membutuhkan GPU.

GPU membutuhkan listrik dan pendinginan.

Tetapi manusia tetap membutuhkan air.

Karena itu, pertanyaan kepada pemerintah dan investor bukan lagi sekadar:

“Berapa triliun investasi yang masuk ke Batam?”

Pertanyaannya harus berkembang menjadi:

“Berapa besar sumber daya yang dibutuhkan, dari mana sumbernya, dan apa jaminannya bahwa masyarakat Batam tidak dirugikan?”

Batam boleh bermimpi menjadi pusat AI Asia Tenggara.

Kita boleh menyambut NVIDIA, Firmus, DayOne dan investor teknologi dunia lainnya.

Namun keberhasilan sebuah kota tidak dapat hanya diukur dari seberapa banyak server yang berdiri di atas tanahnya.

Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika investasi dan teknologi tumbuh tanpa mengorbankan kebutuhan dasar orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

Jangan sampai suatu hari nanti dunia menjalankan kecerdasan buatan dari Batam, sementara warga Batam masih harus menunggu air mengalir dari keran.

(Ibnu)