Zero Halinar Harga Mati, Jajaran Lapas Diminta Perkuat Deteksi Dini Gangguan Kamtib
JAKARTA, Batam24.com – Komitmen mewujudkan lingkungan pemasyarakatan yang bersih dari handphone, pungutan liar, dan narkoba atau Zero Halinar kembali ditegaskan kepada seluruh jajaran. Prinsip tersebut dinilai sebagai harga mati yang harus diwujudkan melalui kedisiplinan, pengawasan, deteksi dini, serta pembinaan yang berkelanjutan.
Pimpinan mengingatkan, berbagai persoalan yang terjadi di sejumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan harus menjadi bahan evaluasi bersama. Jangan sampai jajaran baru bergerak setelah muncul gangguan keamanan dan ketertiban.
Menurutnya, setiap potensi permasalahan harus mampu dikenali sejak awal. Dengan demikian, langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum persoalan berkembang menjadi gangguan yang lebih besar dan berujung pada penanganan oleh tingkat pusat maupun Kantor Wilayah.
Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah meningkatkan kegiatan sambang serta pemantauan langsung ke blok hunian warga binaan. Kehadiran pejabat dan petugas secara langsung di tengah warga binaan dinilai dapat membangun komunikasi sekaligus memberikan efek pencegahan terhadap potensi pelanggaran.
Ia mencontohkan kegiatan yang dilakukan di Lapas Rajabasa. Setelah apel, para pejabat langsung turun berkeliling ke blok hunian. Pola tersebut dinilai dapat diterapkan di Lapas Cipinang sebagai bentuk kehadiran nyata jajaran di lapangan.
“Kalau kita datang dan menyambangi mereka, mereka akan berpikir ulang ketika akan melakukan pelanggaran,” ujarnya.
Penguatan patroli dan pemantauan juga menjadi perhatian jajaran Keamanan dan Ketertiban (Kamtib). Seluruh petugas diminta memahami bahwa keamanan lapas merupakan tanggung jawab bersama dan tidak boleh dibebankan hanya kepada satu bidang tertentu.
“Ini lapas kita bersama. Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan kita, sehingga kita harus mau belajar dan memahami seluruh bidang pekerjaan,” tegasnya.
Kepada para pejabat struktural, ia meminta agar tidak hanya menerima pekerjaan dalam kondisi telah selesai. Setiap pejabat harus memahami proses pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, sekaligus memiliki kepedulian terhadap personel yang berada di bawahnya.
Menurutnya, sejumlah persoalan dapat muncul akibat kurangnya pengetahuan, pembelajaran, pengawasan, maupun ikhtiar dalam melaksanakan tugas. Karena itu, berbagai celah kecil yang berpotensi menimbulkan gangguan harus segera diperbaiki.
Termasuk dalam pengelolaan gudang senjata dan gudang obat. Penanggung jawab, sistem pengelolaan, hingga keberadaan kunci harus diatur secara jelas. Hal-hal sederhana tersebut menjadi bagian penting dari upaya deteksi dini dan pencegahan.
Ketelitian dalam administrasi juga menjadi perhatian. Jajaran diminta tidak menganggap sepele kesalahan administratif sekecil apa pun karena setiap pekerjaan memiliki konsekuensi terhadap pelaksanaan tugas dan tata kelola organisasi.
“Takdir adalah hasil akhir dari ikhtiar kita. Jangan pernah berpikir akan menjadi apa-apa apabila kita tidak melakukan apa-apa,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula bahwa pegawai yang terbukti melakukan pelanggaran telah diproses sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, langkah pembinaan dan pencegahan diharapkan dapat diperkuat agar tidak ada lagi pegawai yang harus ditarik atau dipindahkan akibat persoalan yang sejatinya masih dapat dicegah.
Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki peluang untuk berubah dan berkembang. Karena itu, fungsi pembinaan tidak hanya ditujukan kepada warga binaan, tetapi juga harus diberikan kepada pegawai sebagai bagian dari organisasi.
“Kalau WB dapat dibina dan diarahkan untuk menjadi lebih baik, maka pegawai sebagai bagian dari organisasi juga harus mendapatkan perhatian dan pembinaan yang sama,” ujarnya.
Pada aspek pengembangan sumber daya manusia, jajaran juga diminta memberikan perhatian kepada pegawai yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana. Peningkatan pendidikan dinilai penting untuk memperkuat kapasitas, kompetensi, serta kesiapan pegawai dalam menghadapi perkembangan tuntutan pekerjaan.
“Pikirkan hari ini kita bisa melakukan apa. Jangan terlalu berandai-andai tentang masa depan, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi,” tambahnya.
Menutup arahannya, pimpinan kembali mengingatkan pentingnya kedisiplinan dan kerapian dalam mengenakan seragam dinas. Menurutnya, seragam bukan sekadar pakaian kerja, melainkan bagian dari cerminan sikap, disiplin, dan profesionalitas seorang pegawai.
“Yang pakaiannya masih kurang rapi, tolong dirapikan. Ini seragam kita, dan seragam adalah cerminan diri kita,” pungkasnya.
(Rara)
